Playlist

Rabu, 09 Mei 2012

Dunia Ini Seperti Dua Sisi



Terkadang bahkan mungkin sering, dunia tidak seperti yang kita inginkan
Terkadang bahkan mungkin sering, kita harus menjadi seperti yang diinginkan dunia
Mau tidak mau, kita harus melakukan
Meski terkadang bahkan mungkin sering kita merasa tidak nyaman melakukannya
Tapi, inilah hidup
Kita tidak sepenuhnya memiliki kebebasan dalam hidup
Hidup ini begitu terbatas
Entahlah. Aku harap, ini bukanlah suatu keputusasaan
Inilah kenyataannya ...
Dunia ini seperti dua sisi
Kadang kita beruntung saat kita bisa menikmati dunia
Kadang kita harus pasrah saat dunia membuat rapuh

Selengkapnya...

Kamis, 03 Mei 2012

Klasifikasi Konsonan Bahasa Indonesia




Konsonan adalah bunyi yang dihasilkan dengan mempergunakan artikulasi pada salah satu bagian alat bicara. Secara fisiologis antara konsonan satu dengan yang lain lebih mudah dibedakan daripada vokal. Konsonan dibedakan menurut :
§  Cara dihambat (cara artikulasi).
§  Tempat hambatan (tempat artikulasi).
§  Hubungan posisional antara penghambat-penghambatanya atau hubungan antara arikulator aktif dengan pasif (striktur).
§  Bergetar tidaknya pita suara dan dilengkapi pula dengan arah arus udara dan mekanisme waktu konsonan diucapkan.

1.      Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan hambat letup adalah konsonan yang terjadi dengan hambatan penuh arus udara kemudian hambatan itu dilepaskan secara tiba-tiba. Strikturnya rapat kemudian dilepaskan tiba-tiba. Striktur rapat yang pertama disebut hambatan, sedangkan striktur pelepasan yang kedua disebut letupan. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan hambat letup  dibagi menjadi :
a)      Konsonan hambat letup bilabial
Penghambat artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, seperti bunyi : [p, b]. Perbedaan di antara keduanya ialah [p] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [b] adalah lunak bersuara.
Contoh bunyi [p. b] : pita, baru, tetap
[p] pada akhir kata disebut konsonan letup hambat karena letupan terjadi lenih dahulu baru kemudian hambatan, atau sering dikatakan hambatannya tidak dilepaskan. Bunyi [b] dalam bahasa Indonesia, misalnya pada kata “jawab, huruf [b] diucapkan sebagai [p].


b)      Konsonan hambat letup apiko-dental
Konsonan yang terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gigi atas. Bunyi yang dihasilkan adalah [t, d]. Bunyi dental [t] adalah konsonan keras tak bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek daripada [t].
Contoh bunyi [t, d] : tiba. Lebat
Semua bunyi [d] pada akhir kata diucapkan sebagai [t] walaupun ditulis dengan huruf [d], misalnya pada kata “murid”.
c)      Konsonan hambat letup apiko-alveolar
Konsonan yang terjadi bila penghambat artikuator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan adalah [t, d]. Perbedaan antara alveolar  [t] adalah konsonan keras tak bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek.
Contoh bunyi [t, d] dalam bahasa Inggris : town [baca: thaUn], down
[t] diucapkan beraspirasi, sedangkan [d] tidak beraspirasi.
d)      Konsonan hambat letup apiko-palatal
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan atikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang terjadi adalah [ṭ, ḍ]. Perbedaan di antara keduanya adalah [ṭ] konsonan keras tak bersuara, sedangkan [ḍ] adalah lunak bersuara.
Contoh bunyi  [ṭ, ḍ] : datang, madu
e)      Konsonan hambat letup medio-palatal
Konsonan yang terjadi bila arikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan adalah [c, j]. Perbedaan antara bunyi [c] dengan [j] adalah [c] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [j] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunyi [c, j] : cara, jurang
f)        Konsonan hambat letup dorso-velar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan adalah [k, g]. Perbedaan antara [k] dengan [g] adalah [k] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [g] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunyi  [k, g] : kaca, gaya, cantik
[k] pada akhir kata merupakan letup hambat atau hambatannya tidak dilepaskan.

g)      Konsonan hamzah (glottal plosive, glottal stop)
Konsonan hamzah terjadi dengan menekan rapat yang satu terhadap yang lain pada seluruh panjangnya pita suara, langit-langit lunak beserta anak tekaknya dikeataskan, sehingga arus udara terhambat untuk beberapa saat. Dengan merapatnya sepasang pita suara maka glotis dalam keadaan tertutup rapat. Secara tiba-tiba kedua selaput pita suara itu dipisahkan, terjadilah letupan udara keluar, dan terdengarlah bunyi [?].
Contoh bunyi  [?] :  ma’af [ma?af], kakak [kaka?]

2.    Konsonan Nasal (Nasals)
Konsonan nasal (sengau) adalah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga mulut, langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan, sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan jenis ini dapat diperinci lagi menjadi :
a)    Konsonan nasal bilabial
Konsonan nasal bilabial terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas. Nasal yang terjadi adalah [m], karena pita suara ikut bergetar maka nasal [m] termasuk konsonan bersuara.
Contoh bunyi [m] : malam
b)   Konsonan nasal apiko-alveolar
Konsonan nasal apiko-alveolar terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan arikulator pasifnya adalah gusi. Nasal yang terjadi adalah [n]. Karena pita suara ikut bergetar maka nasal [n] adalah konsonan bersuara.
Contoh bunyi [n] : nada
c)    Konsonan nasal medio-palatal
Konsonan nasal medio-palatal terjadi bila penghambatan artikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit keras. Nasal yang dihasilkan adalah [n], karena pita suara ikut bergetar maka [n] juga konsonan bersuara.
Contoh bunyi [n] : nyaring, nyanyi
d)   Konsonan nasal dorso-velar
Kosonan nasal dorso-velar terjadi bila proses penghambatan, artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit lunak. Nasal yang dihasilkan adalah [ŋ], karena pita suara ikut bergetar maka [ŋ] adalah nasal besuara.
Contoh bunyi [ŋ] : senang
3.     Konsonan Sampingan (Laterals)
Konsonan sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping atau di salah satu sampingnya. Jadi, strikturnya adalah renggang lebar. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan gusi. Bunyi yang dihasilkan disebut sampingan apiko-alveolar, yaitu bunyi [l], karena pita suara ikut  bergetar maka [l] adalah konsonan bersuara.
Contoh bunyi [l] : lama, lagu

4.      Konsonan Geseran atau Frikatif (Fricatives, Frictions)
Konsonan geseran adalah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru, sehingga jalannya udara terhalang dan keluar dengan bergeser. Jadi strikturnya tidak dapat seperti pada konsonan letup tetapi renggang. Menurut tempat artikulasinya konsonan geseran dapat dibedakan menjadi :
a)      Konsonan geseran labio-dental
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah gigi atas. Bunyi yang terjadi adalah [f, v]. Perbedaan di antara kedua bunyi geseran ini adalah [f] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [v] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunti  [f, v] : fakta, valuta
b)      Konsonan geseran lamino-alveolar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya daun lidah dan ujung lidah, sedangkan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan [s, z]. Perbedaanya, [s] sebagai konsonan keras tidak bersuara lebih panjang hambatannya, sedangkan [z] sebagai konsonan lunak bersuara yang hambatannya lebih pendek.
Contoh bunyi [s, z] : suka, lezat
c)      Konsonan geseran dorso-velar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan [x], karena pita suara tidak ikut bergetar, maka bunyi [x] adalah konsonan tidak bersuara.
Contoh bunyi [x] : khilaf
d)      Konsonan geseran laringal
Konsonan geseran laringal atau geseran glotal terjadi bila artikulatornya adalah sepasang pita suara. Udara yang dihembuskan dari paru-paru pada waktu melewati glotis digeserkan. Glotis dalam posisi terbuka. Posisi terbuka ini lebih sempit daripada posisi glotis terbuka lebar dalam bernafas normal. Bunyi yang dihasilkan adalah [h],  karena glotis dalam posisi terbuka, maka pita suara tidak ikut bergetar, dengan demikian [h] adalah konsonan tidak bersuara.
Contoh bunyi [h] : hasil, sawah

5.      Konsonan Getar (Trills, Vibrants)
Konsonan getar adalah konsonan yang dibentuk dengan menghambat  jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat. Jadi strikturnya rapat renggang, yaitu dirapatkan kemudian direnggangkan atau dilepaskan (dihambat-dilepaskan) berkali-kali dengan cepat.
Konsonan getar apiko-alveolar merupakan bagian dari konsonan getar, konsonan ini terjadi bila artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan adalah [r]. Contoh bunyi [r] : rasa, lempar.

6.      Semi-vokal
Bunyi semi-vokal adalah konsonan yang pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Hubungan posisional antar penghambat (artikulator) dalam mengucapkan semi-vokal adalah renggang terbentang atau renggang lebar. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) ada dua jenis semi-vokal yaitu :
a)      Semi-vokal bilabial dan labio-dental
Semi-vokal yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, bunyi yang dihasilkan adalah [w] bilabial. Dapat juga bibir bawah bekerja sama dengan gigi atas, yang terjadi adalah [w] labio-dental, karena pita suara ikut bergetar maka [w] adalah bunyi bersuara.
 Contoh bunyi [w] :  warna, waktu
b)      Semi-vokal medio-palatal
Semi-vokal bilabial terjadi bila artikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan adalah [y], karena pita suara ikut bergetar maka [y] adalah bunyi bersuara.
Contoh bunyi [y] : saya, yang





Bagan Konsonan Bahasa Indonesia
Striktur
Cara
Artikulasi
Tempat Artikulasi

Bilabial
Labio
Dental
Apiko
Dental
Apiko
Alveolar
Apiko
Palatal
Lamino
Alveolar
Medio
Palatal
Dorso
Velar
Laringal
Glotal
Rapat lepas
tiba-tiba
Hambat
Letup
T
p, p-

t, t-



c
k

?
B
b




j
g

Nasal
B
m


n


n
ŋ


Renggang
Lebar
Sampingan
B



l






Renggang
Geseran
T

f



s

x
h

B

v



z


Rapat
Renggang
Getar




r, ɹ






Renggang
Lebar
Semi-vokal
B

w




y



Keterangan:
B : Bersuara              T : Tidak bersuara


Daftar Pustaka :
Marsono. 2008. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Selengkapnya...