Autumn’s Angel
Malam ini aku
bingung sekali menentukan pilihan. Ibu ingin sekali melihatku menjadi seorang
pengacara, sedangkan ayah ingin sekali aku menjadi ahli keuangan. Aku tidak
terlalu suka dengan keduanya. Dari kecil impianku adalah menjadi seorang
perawat. Sejak kecil aku suka menolong temanku yang jatuh dan berusaha
mengobatinya atau mengantar temanku yang sakit ketika di sekolah ke rumah sakit
sekolah. Kebetulan sekolahku mempunyai semacam rumah sakit, walaupun kecil,
setidaknya cukup membantu murid yang tiba-tiba sakit saat sekolah. Aku juga
mengenal semua petugas dan dokter di rumah sakit kecil sekolahku. Mereka suka
padaku. Mereka bilang aku memiliki sifat keibuan dan penyayang. Apakah itu
benar? Pertanyaan itulah yang selalu muncul di benakku. Entah mengapa aku
merasa senang ketika aku melakukan semua itu, membantu orang yang sedang sakit
atau yang sedang dalam keadaan darurat.
“Kim Hyun Seok,
selamat yah, kau lulus dengan nilai terbaik. Kau benar-benar perawat hebat.”
Puji salah satu dosenku. Aku bahagia sekali. Aku tertawa dan berlari kegirangan
hingga tak kusadari aku tersandung batu dan brakk …
“Hyun Seok, kau kenapa? Tertawa
seperti orang gila, kenapa kau tidur di bawah?”
“Ah … Ibu, mengagetkanku saja.”
“Justru kau yang mengagetkan ibu,
tengah malam begini kau tertawa terbahak-bahak. Ibu takut kau kenapa-napa,
akhirnya ibu ke kamarmu.”
“Maaf ibu, aku tadi bermimpi.”
“Ya sudah, ibu kembali ke kamar.”
Hah … ternyata cuma mimpi, tapi aku
senang bermimpi seperti itu. Dan jelaslah sudah tekadku menjadi seorang
perawat. Aku akan berbicara pada ayah dan ibu tentang keputusanku.
Dua hari
kemudian aku baru berani membicarakan hal ini pada ayah dan ibu. Pada awalnya
mereka sedikit tidak setuju dengan pilihanku menjadi seorang perawat, tetapi
aku terus berusaha meyakinkan ayah dan ibu. Aku senang sekali, ayah dan ibu mau
mengerti dan setuju jika aku menjadi seorang perawat.
“Sebenarnya ayah setuju kau menjadi
apa pun yang kau inginkan, asalkan itu baik dan kau serius menjalaninya.”
Aku sudah mendapat persetujuan dari
ayah dan ibu. Kini aku siap menjalani tes masuk perguruan tinggi keperawatan. Setiap
hari aku selalu belajar dan pada saat tes aku tidak terlalu mengalami
kesulitan. Aku sangat percaya diri.
Aku diterima di
perguruan tinggi keperawatan, tetapi sayangnya, aku harus berpisah dengan ayah
dan ibu karena perguruan itu berada di luar kota. Walaupun sedih, tapi aku
tetap berusaha meraih impianku. Yang terpenting adalah ibu dan ayah sudah
merestuiku dan aku bisa tenang belajar. Ibu dan ayah juga tidak
mempermasalahkan jika aku harus pindah ke luar kota. Pesan ibu agar aku selalu
menjaga diri dan selalu semangat meraih impianku menjadi seorang perawat.
Seoul,
kota yang semula asing bagiku, kini menjadi kota yang indah bagiku. Kota
tempatku berjuang untuk menjadi seorang perawat. Dan hal indah lainnya yang
kutemukan di Seoul adalah sebuah tempat yang aku datangi sepulang kuliah ketika
musim gugur tiba. Di tempat ini ada sebuah bangku kayu favoritku. Di bangku ini
aku terbiasa menghabiskan waktu dengan membaca buku, mendengarkan musik sambil
menikmati indahnya musim gugur.
Ini adalah
musim gugur pertamaku di Seoul. Sudah tiga minggu aku selalu datang ke tempat
favoritku. Ternyata musim gugur indah jika dinikmati di alam terbuka. Berada di
tengah daun-daun yang berguguran dan merasakan hembusan kecil angin. Hmm …
bagaikan berada di surga.
Minggu ini
adalah adalah minggu keempat. Seperti biasa, aku duduk dibangku kayu, tetapi
entah kenapa aku tidak ingin membaca buku atau pun mendengarkan musik. Aku
ingin sekali merentangkan tangan, menengadahkan kepala sambil memejamkan mata.
Oh … betapa indahnya musim gugur. Tiba-tiba aku mendengar suara yang lembut
menyapaku, “Hai, bolehkah aku duduk di bangku ini?” Aku segera membuka mata dan
alangkah terkejutnya aku melihat sosok yang begitu tampan. Dia seperti malaikat
yang turun dari surga. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menganggukkan
kepala. Dia tersenyum dan berjalan ke arahku. Oh .. Tuhan, apa yang terjadi
denganku? Ketika ia berjalan ke arahku, aku begitu takjub. Aku melihatnya
mengepakkan sayap, berjalan dengan senyum yang lembut, dia bercahaya. Jantungku
berdegup kencang ketika ia duduk di sebelahku. Aku tidak sedikit pun menoleh ke
dia. “Hai, apa kau tidak apa-apa?” Aku hanya diam. Baru ketika ia
melambai-lambaikan tangannya di hadapanku, aku sadar dan terbata-bata menjawab
pertanyaannya, “A a aku ti tidak apa-apa.” Dia hanya tersenyum padaku.
Apa yang
terjadi pada diriku. Baru kali ini aku mengalaminya, apa ini yang dinamakan
cinta? Ah … tidak tidak. Ini bukan cinta. Yah aku yakin, ini hanya perasaan
takjub saja. Tapi kenapa aku merasa deg-degan, keringat dinginku keluar dan …
entahlah aku bingung mengungkapkannya. Yang pasti selama beberapa menit aku
hanya diam tanpa bergerak sedikit pun. Tubuhku terasa kaku. Aku tak berani
menoleh ke arahnya.
Kukumpulkan
keberanian dan kukatakan padanya, “Hmm … aku duluan yah.” Setelah
mengatakannya, aku langsung lari. Mungkin dia berpikir aku aneh. Setelah
berlari cukup jauh, aku berhenti dan bersembunyi dibalik pohon sambil
melihatnya lagi dari kejauhan. Dia begitu terlihat tampan sebagai seorang
lelaki. Mengenakan jaket warna putih, berkemeja hijau, celana jins hitam dan
bersepatu putih. Dia duduk sambil mendengarkan musik, dan kurasa dia juga
menyanyi dengan suara kecil. Dia juga terlihat lucu dengan headset warna putih
dan hijau yang ia gunakan. Aku melihatnya cukup lama. Semakin lama kulihat dia,
aku melihat cahaya indah keluar dari
dirinya, lalu ia mulai mengepakkan sayapnya. Hembusan angin yang
menghampirinya semakin membuatnya memukau.
Tuhan, apakah
aku bermimpi? Ataukah aku sudah gila? Aku mencubit pipiku dan itu terasa sakit,
berarti aku tidak bermimpi. Aku mengucek mataku, dia terlihat seperti manusia
biasa. Tapi itu hanya sepintas, kemudian aku melihatnya bersayap lagi. Aku
mengucek mataku lagi, ia seperti manusia biasa, tapi kemudian kulihat ia
bersayap lagi. Ahh … aku bingung. Ada apa denganku? Adakah yang salah dengan
penglihatanku? Baiklah, mungkin lebih baik aku pulang, sepertinya aku terlalu
lelah dan harus istirahat.
Entah kenapa?
Aku tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata aku selalu terbayang wajah dan
senyum manisnya. Dia begitu berkesan. Dia benar-benar someone like an angel.
Besok aku ingin menemuinya, eh tidak, lebih tepatnya melihatnya dari jauh, dari
balik pohon. Sebenarnya aku ingin sekali bisa berteman dengannya, tapi apa
boleh buat, aku masih malu.
Tiga hari sudah
aku melihatnya dari jauh di jam yang sama. Hari ini adalah hari keempat, tapi
berhubung tadi ada acara mendadak, aku hanya bisa sebentar melihatnya. Ketika
ia beranjak dari bangku dan melangkahkan kaki, tiba-tiba muncul niatku untuk
mengikutinya. Pelan-pelan kuberjalan bak detektif mengikutinya. Ternyata aku ketinggalan
jejaknya, ia cepat sekali jalannya. Yah sudahlah, aku pulang saja.
Hari kelima
kulihat dia dari kejauhan, tapi ia tak juga datang. Ada apa dengannya? Apa dia
sakit? Hatiku gelisah. Aku menghampiri bangku itu dan duduk. Aku terus
bertanya-tanya. Kemana dia? Aneh, kenapa aku berharap sekali dia datang? Dua
jam berlalu, dia tak datang juga. Tapi aku masih ingin menunggunya, dan
alangkah terkejutnya aku tiba-tiba ada seseorang dari belakang memakaikan
headset padaku.
“Hai, apa kabar? Sudah beberapa hari
ini kau tidak ke sini, kenapa?” Dia mengatakan itu padaku dan duduk
disampingku. Aku segera melepas headset dan “Hmm … aku sedang sibuk.” Dia hanya
tersenyum. Kali ini walaupun jantungku masih berdegup kencang, tapi aku sudah
memiliki keberanian untuk menatapnya.
“Sejak pertama kali bertemu denganmu
aku ingin sekali berteman, tapi kenapa waktu itu kau lari? Apa aku terlihat
begitu menakutkan?”
“Tidak, aku hanya sedang
terburu-buru saja.”
“Oo … kalau begitu, perkenalkan aku
Park Ju Woon. Mulai sekarang kita teman.”
“Kim Hyun Seok, yah mulai sekarang
kita teman.”
Betapa bahagianya aku. Dia, someone
like an angel berteman denganku. Hari ini benar-benar hari yang
membahagiakan.
Semenjak hari
itu, aku dan Ju Woon semakin dekat. Setiap hari kami datang ke tempat ini. Di
bangku kayu inilah aku dan Ju Woon saling berbagi cerita, mendengarkan musik
bersama, dan menulis di atas daun. Kedengarannya memang aneh, tapi kami senang
melakukannya. Ju Woon suka menulis puisi untukku, begitu pula denganku. Kami juga
menyimpan daun-daun bertuliskan puisi itu. Aku menyimpannya di sebuah kotak dan
kuletakkan di kamar. Satu hal lagi, Ju Woon suka sekali makan kimchi, aku juga.
Terkadang aku sengaja membawa kimchi saat bertemu untuk dimakan bersama. Ju
Woon yang manja sering memintaku menyuapinya. Anehnya aku tidak pernah menolak.
Diam-diam aku
menyimpan perasaan pada Ju Woon. Aku sayang padanya dan aku tak ingin
kehilangan dia. Apakah Ju Woon juga memiliki perasaan yang sama? Andai ia tahu
perasaanku. “Hyun Seok, apa kau tahu diantara musim di sini, hanya musim gugur
yang kusukai. Aku serasa ingin menangis ketika musim gugur akan berlalu.
Seandainya bisa, aku ingin selamanya musim gugur.” Entah mengapa Ju Woon
berkata seperti itu? Aku begitu melihat kesedihan di wajahnya. “Aku juga suka
musim gugur.” Aku mengucapkannya sambil tersenyum. Tapi sejujurnya aku juga
sedih karena musim gugur akan segera berakhir. Aku merasa akan berpisah dengan
Ju Woon. Tapi aku harap ini tidak akan terjadi.
Musim gugur
telah berlalu. Lima hari berturut-turut aku mendatangi tempat favorit kami saat
musim gugur. Tapi Ju Woon tidak datang. “Kau dimana Ju Woon? Aku merindukanmu.”
Kutulis di sehelai daun, Ju Woon datanglah, aku ingin tersenyum bersamamu
lagi. Kuletakkan daun itu di atas bangku dan di atas daun tak lupa sekotak
kimchi kesukaan Ju Woon. Aku berharap dia datang dan membaca pesanku.
Hari keenam aku
datang lagi ke tempat ini. Aku harap ada sesuatu di atas bangku kayu itu. Tentu
kuharap dari Ju Woon. Andai dulu aku bertanya alamat atau nomor yang bisa
kuhubungi, mungkin tidak akan sesulit ini. Tapi entah mengapa selama bersama Ju
Woon aku tidak memikirkan hal itu. Bukankah ini MP3 player dan headset milik Ju
Woon? Ternyata ada daun bertuliskan pesan. Dan aku yakin ini tulisan Ju Woon. Hyun
Seok, maafkan aku. Mungkin di musim gugur mendatang, kita bisa bertemu. Kuharap
kau masih menganggapku teman. Fighting!! Aku selalu menunggumu sampai musim
gugur mendatang dan sampai kapan pun. Aku tidak tau mengapa kau meninggalkan
MP3 player dan headset milikmu di sini? Yang jelas aku akan menyimpannya dan
boleh kan? jika sesekali aku memakainya untuk mengobati rasa rinduku padamu.
Waktu terus
berlalu, tak terasa musim gugur segera tiba lagi. Ju Woon apa kabarmu? Apa kau
di sana baik-baik saja? Apa kau tau? aku senang sekali karena sebentar lagi aku
akan bertemu denganmu. Kuharap kau datang. Tak sabar kumenunggu musim gugur
keduaku bersamamu.
Musim gugur
sudah satu bulan. Setiap hari aku datang ke tempat kita. Tapi hasilnya kau
selalu tidak datang, apa kau lupa Ju Woon? Dua hari lagi dan sampai sebulan ke
depan aku tidak bisa datang ke tempat kita. Aku harus bertugas di sebuah rumah
sakit. Kau pasti tahu, aku ini calon perawat. Jadi, kuharap dua hari ini kau bisa
datang, jika tidak, maafkan aku tidak bisa menemuimu.
Sebagai seorang
calon perawat, tugas pertamaku adalah merawat pasien yang sedang koma. Kudengar
pasien ini koma karena kecelakaan mobil. Ketua perawat mengantarkanku ke kamar
pasien yang harus aku rawat. Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasakan kehadiran
Ju Woon. Apa dia ada di sini? Benar, betapa terkejutnya aku saat tahu, pasien
koma yang harus ku rawat adalah Ju Woon. Awalnya aku tidak percaya, tapi
setelah aku mendekat, aku yakin dia Ju Woon. Apakah ini alasanmu tidak datang
ke tempat kita saat musim gugur kedua datang? Ju Woon tahukah kau? Aku senang
bisa bertemu denganmu, tapi mengapa kita harus bertemu dengan keadaan seperti
ini?
Aku bertanya
pada ketua perawat, sudah berapa lamakah Ju Woon koma? “Ju Woon sudah dua tahun
ini koma. Selama ini hanya dengan alat-alat itu ia bertahan hidup.” Betapa
terkejutnya aku. Dua tahun? Apakah itu bercanda? Yang benar saja, lalu siapa
yang bersamaku di musim gugur yang lalu? Apakah mungkin Ju Woon yang sedang koma
pergi ke luar? Atau mungkin itu arwah Ju Woon? Oh Tuhan, sungguh aku tidak
mengerti. Aku berusaha tidak memikirkan hal itu, yang ada dalam pikiranku
hanyalah bagaimana caranya membuat Ju Woon sadar dari koma.
Aku tahu Ju
Woon suka musik, jadi selama beberapa hari ini kupasang headset di telinganya,
aku putar semua musik di MP3 player miliknya. Kuharap dia bisa merespon suara
musik yang ia dengar. Aku juga sering berbicara padanya, kuceritakan semua hal
saat kita berdua bersama. Dan … kurasa ini sedikit konyol, aku juga membawa
kimchi. Aku tahu Ju Woon tidak bisa makan saat ini, tapi mungkin ia bisa
mencium aroma kimchi yang kubawa. Hampir aku berputus asa karena Ju Woon tak
juga sadar dari koma.
Satu hal yang
aku lupa, Ju Woon suka musim gugur dan sekarang sedang musim gugur. Aku
berpikir bagaimana caranya agar Ju Woon tahu, saat ini adalah musim yang ia
sukai. “Ju Woon, bangunlah, sekarang musim gugur yang kau nanti sudah tiba. Ayo
Ju Woon bangunlah, kita ke tempat musim gugur yang lalu. Aku janji akan
membawakanmu kimchi yang banyak.” Bisikku pada Ju Woon. Aku berjalan ke sebuah
meja yang berada 2 meter di depan ranjang Ju woon. Ada sebuah foto, Ju Woon
bersama seorang lelaki yang kira-kira berusia 50 tahun, mungkin itu ayah Ju
Woon, muka mereka mirip. Setelah melihat foto itu, aku jadi teringat ayah dan
ibu. Aku menatap ke depan dan … yah ada korden di sini, kubuka korden itu dan
ku kembali ke Ju Woon. “Lihatlah ke jendela itu Ju Woon, musim gugur yang
indah. Kau bisa melihat musim gugur dari kamarmu.”
Aku berlari ke
luar, kuambil beberapa helai daun yang gugur, lalu aku kembali lagi. “Kau suka
menulis kan? Baiklah sekarang kita menulis.” Aku memegang tangan Ju Woon,
dengan sebuah bolpoin, aku menuntun Ju Woon menulis di sehelai daun. Musim
gugur yang indah. Inilah senyum bahagia. Kuharap Ju Woon merespon, tapi
ternyata ia masih belum bergerak sedikit pun. Aku hanya terdiam di sebelah Ju
Woon. “Tuhan, aku sayang dia, izinkan aku bersama dia lagi, kumohon.” Aku
menangis sambil menggenggam tangan Ju Woon. Aku merasa terjadi sesuatu di
tangan Ju Woon. Aku tersenyum. Tangannya mulai bergerak, segera aku lari
memanggil dokter.
Beberapa lama
kemudian Ju Woon bangun dari koma. Ia sudah membuka matanya. Ini benar-benar
keajaiban. Terima kasih Tuhan. Aku mendekati Ju Woon. “Apa kau masih ingat aku?
Aku Kim Hyun Seok.” Ju Woon yang masih lemah berusaha mengingat. “Maaf, aku
tidak tahu, tapi aku merasa, sepertinya kita pernah bertemu?” dengan segera
kujawab, “Tentu saja. Musim gugur yang lalu kita bertemu. Kau ingat kan?”. Ju
Woon tampak bingung. “Musim gugur yang lalu?” mungkin dia butuh waktu untuk
mengingat semuanya. Baiklah aku akan menunggumu sampai kau ingat semuanya. Aku
memeluk Ju Woon dan kukatakan padanya aku sangat merindukannya dan aku
menyayanginya. Ju Woon mungkin masih bingung, ia hanya terdiam.
Seminggu sudah
semenjak Ju Woon bangun dari koma, aku selalu mengunjungi Ju Woon. Aku menemani
dia dan kuceritakan segala hal saat kami bertemu. Ju Woon merasa ceritaku sama
dengan mimpi panjangnya. “Sepertinya aku bermimpi saat aku bertemu denganmu.
Bagaimana mungkin aku pergi ke tempat yang kau ceritakan sementara saat itu aku
sudah dalam keadaan koma?” Baiklah Ju Woon, mungkin kau menganggap ini aneh,
apalagi aku? Tapi aku tidak peduli, yang paling penting aku bisa bertemu
denganmu lagi.
“Hyun Seok, musim gugur yang kulihat
dari jendela kamar ini terlihat indah ya? Apa kau mau mengajakku ke tempat
musim gugur yang lalu? Aku sangat ingin kesana.”
“Tentu. Sebuah bangku di sana sudah
lama menanti kita Ju Woon.”
“Aku ingin duduk di bangku itu. Aku
ingin mendengarkan musik bersamamu dan menikmati musim gugur yang indah ini.”
Akhirnya aku bisa kembali ke tempat
ini bersama Ju Woon. Dia terlihat sangat menikmati musin gugur. Aku
memandangnya yang duduk di sampingku. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyuman
manis dari seorang autumn’s angel. Dan …
Aku melihat Ju Woon mengepakkan
sayapnya dan ia bercahaya. Ju Woon kau begitu tampan. Kau benar-benar someone
like an angel.
(By: Lucky "Ardela" Star)
