Playlist

Rabu, 13 Juni 2012

Romantic Story


Autumn’s Angel
Malam ini aku bingung sekali menentukan pilihan. Ibu ingin sekali melihatku menjadi seorang pengacara, sedangkan ayah ingin sekali aku menjadi ahli keuangan. Aku tidak terlalu suka dengan keduanya. Dari kecil impianku adalah menjadi seorang perawat. Sejak kecil aku suka menolong temanku yang jatuh dan berusaha mengobatinya atau mengantar temanku yang sakit ketika di sekolah ke rumah sakit sekolah. Kebetulan sekolahku mempunyai semacam rumah sakit, walaupun kecil, setidaknya cukup membantu murid yang tiba-tiba sakit saat sekolah. Aku juga mengenal semua petugas dan dokter di rumah sakit kecil sekolahku. Mereka suka padaku. Mereka bilang aku memiliki sifat keibuan dan penyayang. Apakah itu benar? Pertanyaan itulah yang selalu muncul di benakku. Entah mengapa aku merasa senang ketika aku melakukan semua itu, membantu orang yang sedang sakit atau yang sedang dalam keadaan darurat.
“Kim Hyun Seok, selamat yah, kau lulus dengan nilai terbaik. Kau benar-benar perawat hebat.” Puji salah satu dosenku. Aku bahagia sekali. Aku tertawa dan berlari kegirangan hingga tak kusadari aku tersandung batu dan brakk …
“Hyun Seok, kau kenapa? Tertawa seperti orang gila, kenapa kau tidur di bawah?”
“Ah … Ibu, mengagetkanku saja.”
“Justru kau yang mengagetkan ibu, tengah malam begini kau tertawa terbahak-bahak. Ibu takut kau kenapa-napa, akhirnya ibu ke kamarmu.”
“Maaf ibu, aku tadi bermimpi.”
“Ya sudah, ibu kembali ke kamar.”
Hah … ternyata cuma mimpi, tapi aku senang bermimpi seperti itu. Dan jelaslah sudah tekadku menjadi seorang perawat. Aku akan berbicara pada ayah dan ibu tentang keputusanku.
Dua hari kemudian aku baru berani membicarakan hal ini pada ayah dan ibu. Pada awalnya mereka sedikit tidak setuju dengan pilihanku menjadi seorang perawat, tetapi aku terus berusaha meyakinkan ayah dan ibu. Aku senang sekali, ayah dan ibu mau mengerti dan setuju jika aku menjadi seorang perawat.
“Sebenarnya ayah setuju kau menjadi apa pun yang kau inginkan, asalkan itu baik dan kau serius menjalaninya.”
Aku sudah mendapat persetujuan dari ayah dan ibu. Kini aku siap menjalani tes masuk perguruan tinggi keperawatan. Setiap hari aku selalu belajar dan pada saat tes aku tidak terlalu mengalami kesulitan. Aku sangat percaya diri.
Aku diterima di perguruan tinggi keperawatan, tetapi sayangnya, aku harus berpisah dengan ayah dan ibu karena perguruan itu berada di luar kota. Walaupun sedih, tapi aku tetap berusaha meraih impianku. Yang terpenting adalah ibu dan ayah sudah merestuiku dan aku bisa tenang belajar. Ibu dan ayah juga tidak mempermasalahkan jika aku harus pindah ke luar kota. Pesan ibu agar aku selalu menjaga diri dan selalu semangat meraih impianku menjadi seorang perawat.
     Seoul, kota yang semula asing bagiku, kini menjadi kota yang indah bagiku. Kota tempatku berjuang untuk menjadi seorang perawat. Dan hal indah lainnya yang kutemukan di Seoul adalah sebuah tempat yang aku datangi sepulang kuliah ketika musim gugur tiba. Di tempat ini ada sebuah bangku kayu favoritku. Di bangku ini aku terbiasa menghabiskan waktu dengan membaca buku, mendengarkan musik sambil menikmati indahnya musim gugur.
Ini adalah musim gugur pertamaku di Seoul. Sudah tiga minggu aku selalu datang ke tempat favoritku. Ternyata musim gugur indah jika dinikmati di alam terbuka. Berada di tengah daun-daun yang berguguran dan merasakan hembusan kecil angin. Hmm … bagaikan berada di surga.
Minggu ini adalah adalah minggu keempat. Seperti biasa, aku duduk dibangku kayu, tetapi entah kenapa aku tidak ingin membaca buku atau pun mendengarkan musik. Aku ingin sekali merentangkan tangan, menengadahkan kepala sambil memejamkan mata. Oh … betapa indahnya musim gugur. Tiba-tiba aku mendengar suara yang lembut menyapaku, “Hai, bolehkah aku duduk di bangku ini?” Aku segera membuka mata dan alangkah terkejutnya aku melihat sosok yang begitu tampan. Dia seperti malaikat yang turun dari surga. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menganggukkan kepala. Dia tersenyum dan berjalan ke arahku. Oh .. Tuhan, apa yang terjadi denganku? Ketika ia berjalan ke arahku, aku begitu takjub. Aku melihatnya mengepakkan sayap, berjalan dengan senyum yang lembut, dia bercahaya. Jantungku berdegup kencang ketika ia duduk di sebelahku. Aku tidak sedikit pun menoleh ke dia. “Hai, apa kau tidak apa-apa?” Aku hanya diam. Baru ketika ia melambai-lambaikan tangannya di hadapanku, aku sadar dan terbata-bata menjawab pertanyaannya, “A a aku ti tidak apa-apa.” Dia hanya tersenyum padaku.
Apa yang terjadi pada diriku. Baru kali ini aku mengalaminya, apa ini yang dinamakan cinta? Ah … tidak tidak. Ini bukan cinta. Yah aku yakin, ini hanya perasaan takjub saja. Tapi kenapa aku merasa deg-degan, keringat dinginku keluar dan … entahlah aku bingung mengungkapkannya. Yang pasti selama beberapa menit aku hanya diam tanpa bergerak sedikit pun. Tubuhku terasa kaku. Aku tak berani menoleh ke arahnya.

Kukumpulkan keberanian dan kukatakan padanya, “Hmm … aku duluan yah.” Setelah mengatakannya, aku langsung lari. Mungkin dia berpikir aku aneh. Setelah berlari cukup jauh, aku berhenti dan bersembunyi dibalik pohon sambil melihatnya lagi dari kejauhan. Dia begitu terlihat tampan sebagai seorang lelaki. Mengenakan jaket warna putih, berkemeja hijau, celana jins hitam dan bersepatu putih. Dia duduk sambil mendengarkan musik, dan kurasa dia juga menyanyi dengan suara kecil. Dia juga terlihat lucu dengan headset warna putih dan hijau yang ia gunakan. Aku melihatnya cukup lama. Semakin lama kulihat dia, aku melihat cahaya indah keluar dari  dirinya, lalu ia mulai mengepakkan sayapnya. Hembusan angin yang menghampirinya semakin membuatnya memukau.
Tuhan, apakah aku bermimpi? Ataukah aku sudah gila? Aku mencubit pipiku dan itu terasa sakit, berarti aku tidak bermimpi. Aku mengucek mataku, dia terlihat seperti manusia biasa. Tapi itu hanya sepintas, kemudian aku melihatnya bersayap lagi. Aku mengucek mataku lagi, ia seperti manusia biasa, tapi kemudian kulihat ia bersayap lagi. Ahh … aku bingung. Ada apa denganku? Adakah yang salah dengan penglihatanku? Baiklah, mungkin lebih baik aku pulang, sepertinya aku terlalu lelah dan harus istirahat.
Entah kenapa? Aku tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata aku selalu terbayang wajah dan senyum manisnya. Dia begitu berkesan. Dia benar-benar someone like an angel. Besok aku ingin menemuinya, eh tidak, lebih tepatnya melihatnya dari jauh, dari balik pohon. Sebenarnya aku ingin sekali bisa berteman dengannya, tapi apa boleh buat, aku masih malu.
Tiga hari sudah aku melihatnya dari jauh di jam yang sama. Hari ini adalah hari keempat, tapi berhubung tadi ada acara mendadak, aku hanya bisa sebentar melihatnya. Ketika ia beranjak dari bangku dan melangkahkan kaki, tiba-tiba muncul niatku untuk mengikutinya. Pelan-pelan kuberjalan bak detektif mengikutinya. Ternyata aku ketinggalan jejaknya, ia cepat sekali jalannya. Yah sudahlah, aku pulang saja.
Hari kelima kulihat dia dari kejauhan, tapi ia tak juga datang. Ada apa dengannya? Apa dia sakit? Hatiku gelisah. Aku menghampiri bangku itu dan duduk. Aku terus bertanya-tanya. Kemana dia? Aneh, kenapa aku berharap sekali dia datang? Dua jam berlalu, dia tak datang juga. Tapi aku masih ingin menunggunya, dan alangkah terkejutnya aku tiba-tiba ada seseorang dari belakang memakaikan headset padaku.
“Hai, apa kabar? Sudah beberapa hari ini kau tidak ke sini, kenapa?” Dia mengatakan itu padaku dan duduk disampingku. Aku segera melepas headset dan “Hmm … aku sedang sibuk.” Dia hanya tersenyum. Kali ini walaupun jantungku masih berdegup kencang, tapi aku sudah memiliki keberanian untuk menatapnya.
“Sejak pertama kali bertemu denganmu aku ingin sekali berteman, tapi kenapa waktu itu kau lari? Apa aku terlihat begitu menakutkan?”
“Tidak, aku hanya sedang terburu-buru saja.”
“Oo … kalau begitu, perkenalkan aku Park Ju Woon. Mulai sekarang kita teman.”
“Kim Hyun Seok, yah mulai sekarang kita teman.”
Betapa bahagianya aku. Dia, someone like an angel berteman denganku. Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan.
Semenjak hari itu, aku dan Ju Woon semakin dekat. Setiap hari kami datang ke tempat ini. Di bangku kayu inilah aku dan Ju Woon saling berbagi cerita, mendengarkan musik bersama, dan menulis di atas daun. Kedengarannya memang aneh, tapi kami senang melakukannya. Ju Woon suka menulis puisi untukku, begitu pula denganku. Kami juga menyimpan daun-daun bertuliskan puisi itu. Aku menyimpannya di sebuah kotak dan kuletakkan di kamar. Satu hal lagi, Ju Woon suka sekali makan kimchi, aku juga. Terkadang aku sengaja membawa kimchi saat bertemu untuk dimakan bersama. Ju Woon yang manja sering memintaku menyuapinya. Anehnya aku tidak pernah menolak.
Diam-diam aku menyimpan perasaan pada Ju Woon. Aku sayang padanya dan aku tak ingin kehilangan dia. Apakah Ju Woon juga memiliki perasaan yang sama? Andai ia tahu perasaanku. “Hyun Seok, apa kau tahu diantara musim di sini, hanya musim gugur yang kusukai. Aku serasa ingin menangis ketika musim gugur akan berlalu. Seandainya bisa, aku ingin selamanya musim gugur.” Entah mengapa Ju Woon berkata seperti itu? Aku begitu melihat kesedihan di wajahnya. “Aku juga suka musim gugur.” Aku mengucapkannya sambil tersenyum. Tapi sejujurnya aku juga sedih karena musim gugur akan segera berakhir. Aku merasa akan berpisah dengan Ju Woon. Tapi aku harap ini tidak akan terjadi.
Musim gugur telah berlalu. Lima hari berturut-turut aku mendatangi tempat favorit kami saat musim gugur. Tapi Ju Woon tidak datang. “Kau dimana Ju Woon? Aku merindukanmu.” Kutulis di sehelai daun, Ju Woon datanglah, aku ingin tersenyum bersamamu lagi. Kuletakkan daun itu di atas bangku dan di atas daun tak lupa sekotak kimchi kesukaan Ju Woon. Aku berharap dia datang dan membaca pesanku.
Hari keenam aku datang lagi ke tempat ini. Aku harap ada sesuatu di atas bangku kayu itu. Tentu kuharap dari Ju Woon. Andai dulu aku bertanya alamat atau nomor yang bisa kuhubungi, mungkin tidak akan sesulit ini. Tapi entah mengapa selama bersama Ju Woon aku tidak memikirkan hal itu. Bukankah ini MP3 player dan headset milik Ju Woon? Ternyata ada daun bertuliskan pesan. Dan aku yakin ini tulisan Ju Woon. Hyun Seok, maafkan aku. Mungkin di musim gugur mendatang, kita bisa bertemu. Kuharap kau masih menganggapku teman. Fighting!! Aku selalu menunggumu sampai musim gugur mendatang dan sampai kapan pun. Aku tidak tau mengapa kau meninggalkan MP3 player dan headset milikmu di sini? Yang jelas aku akan menyimpannya dan boleh kan? jika sesekali aku memakainya untuk mengobati rasa rinduku padamu.
Waktu terus berlalu, tak terasa musim gugur segera tiba lagi. Ju Woon apa kabarmu? Apa kau di sana baik-baik saja? Apa kau tau? aku senang sekali karena sebentar lagi aku akan bertemu denganmu. Kuharap kau datang. Tak sabar kumenunggu musim gugur keduaku bersamamu.
Musim gugur sudah satu bulan. Setiap hari aku datang ke tempat kita. Tapi hasilnya kau selalu tidak datang, apa kau lupa Ju Woon? Dua hari lagi dan sampai sebulan ke depan aku tidak bisa datang ke tempat kita. Aku harus bertugas di sebuah rumah sakit. Kau pasti tahu, aku ini calon perawat. Jadi, kuharap dua hari ini kau bisa datang, jika tidak, maafkan aku tidak bisa menemuimu.
Sebagai seorang calon perawat, tugas pertamaku adalah merawat pasien yang sedang koma. Kudengar pasien ini koma karena kecelakaan mobil. Ketua perawat mengantarkanku ke kamar pasien yang harus aku rawat. Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasakan kehadiran Ju Woon. Apa dia ada di sini? Benar, betapa terkejutnya aku saat tahu, pasien koma yang harus ku rawat adalah Ju Woon. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah aku mendekat, aku yakin dia Ju Woon. Apakah ini alasanmu tidak datang ke tempat kita saat musim gugur kedua datang? Ju Woon tahukah kau? Aku senang bisa bertemu denganmu, tapi mengapa kita harus bertemu dengan keadaan seperti ini?
Aku bertanya pada ketua perawat, sudah berapa lamakah Ju Woon koma? “Ju Woon sudah dua tahun ini koma. Selama ini hanya dengan alat-alat itu ia bertahan hidup.” Betapa terkejutnya aku. Dua tahun? Apakah itu bercanda? Yang benar saja, lalu siapa yang bersamaku di musim gugur yang lalu? Apakah mungkin Ju Woon yang sedang koma pergi ke luar? Atau mungkin itu arwah Ju Woon? Oh Tuhan, sungguh aku tidak mengerti. Aku berusaha tidak memikirkan hal itu, yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya membuat Ju Woon sadar dari koma.
Aku tahu Ju Woon suka musik, jadi selama beberapa hari ini kupasang headset di telinganya, aku putar semua musik di MP3 player miliknya. Kuharap dia bisa merespon suara musik yang ia dengar. Aku juga sering berbicara padanya, kuceritakan semua hal saat kita berdua bersama. Dan … kurasa ini sedikit konyol, aku juga membawa kimchi. Aku tahu Ju Woon tidak bisa makan saat ini, tapi mungkin ia bisa mencium aroma kimchi yang kubawa. Hampir aku berputus asa karena Ju Woon tak juga sadar dari koma.
Satu hal yang aku lupa, Ju Woon suka musim gugur dan sekarang sedang musim gugur. Aku berpikir bagaimana caranya agar Ju Woon tahu, saat ini adalah musim yang ia sukai. “Ju Woon, bangunlah, sekarang musim gugur yang kau nanti sudah tiba. Ayo Ju Woon bangunlah, kita ke tempat musim gugur yang lalu. Aku janji akan membawakanmu kimchi yang banyak.” Bisikku pada Ju Woon. Aku berjalan ke sebuah meja yang berada 2 meter di depan ranjang Ju woon. Ada sebuah foto, Ju Woon bersama seorang lelaki yang kira-kira berusia 50 tahun, mungkin itu ayah Ju Woon, muka mereka mirip. Setelah melihat foto itu, aku jadi teringat ayah dan ibu. Aku menatap ke depan dan … yah ada korden di sini, kubuka korden itu dan ku kembali ke Ju Woon. “Lihatlah ke jendela itu Ju Woon, musim gugur yang indah. Kau bisa melihat musim gugur dari kamarmu.”
Aku berlari ke luar, kuambil beberapa helai daun yang gugur, lalu aku kembali lagi. “Kau suka menulis kan? Baiklah sekarang kita menulis.” Aku memegang tangan Ju Woon, dengan sebuah bolpoin, aku menuntun Ju Woon menulis di sehelai daun. Musim gugur yang indah. Inilah senyum bahagia. Kuharap Ju Woon merespon, tapi ternyata ia masih belum bergerak sedikit pun. Aku hanya terdiam di sebelah Ju Woon. “Tuhan, aku sayang dia, izinkan aku bersama dia lagi, kumohon.” Aku menangis sambil menggenggam tangan Ju Woon. Aku merasa terjadi sesuatu di tangan Ju Woon. Aku tersenyum. Tangannya mulai bergerak, segera aku lari memanggil dokter.
Beberapa lama kemudian Ju Woon bangun dari koma. Ia sudah membuka matanya. Ini benar-benar keajaiban. Terima kasih Tuhan. Aku mendekati Ju Woon. “Apa kau masih ingat aku? Aku Kim Hyun Seok.” Ju Woon yang masih lemah berusaha mengingat. “Maaf, aku tidak tahu, tapi aku merasa, sepertinya kita pernah bertemu?” dengan segera kujawab, “Tentu saja. Musim gugur yang lalu kita bertemu. Kau ingat kan?”. Ju Woon tampak bingung. “Musim gugur yang lalu?” mungkin dia butuh waktu untuk mengingat semuanya. Baiklah aku akan menunggumu sampai kau ingat semuanya. Aku memeluk Ju Woon dan kukatakan padanya aku sangat merindukannya dan aku menyayanginya. Ju Woon mungkin masih bingung, ia hanya terdiam.
Seminggu sudah semenjak Ju Woon bangun dari koma, aku selalu mengunjungi Ju Woon. Aku menemani dia dan kuceritakan segala hal saat kami bertemu. Ju Woon merasa ceritaku sama dengan mimpi panjangnya. “Sepertinya aku bermimpi saat aku bertemu denganmu. Bagaimana mungkin aku pergi ke tempat yang kau ceritakan sementara saat itu aku sudah dalam keadaan koma?” Baiklah Ju Woon, mungkin kau menganggap ini aneh, apalagi aku? Tapi aku tidak peduli, yang paling penting aku bisa bertemu denganmu lagi.
“Hyun Seok, musim gugur yang kulihat dari jendela kamar ini terlihat indah ya? Apa kau mau mengajakku ke tempat musim gugur yang lalu? Aku sangat ingin kesana.”
“Tentu. Sebuah bangku di sana sudah lama menanti kita Ju Woon.”
“Aku ingin duduk di bangku itu. Aku ingin mendengarkan musik bersamamu dan menikmati musim gugur yang indah ini.”
Akhirnya aku bisa kembali ke tempat ini bersama Ju Woon. Dia terlihat sangat menikmati musin gugur. Aku memandangnya yang duduk di sampingku. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyuman manis dari seorang autumn’s angel. Dan …
Aku melihat Ju Woon mengepakkan sayapnya dan ia bercahaya. Ju Woon kau begitu tampan. Kau benar-benar someone like an angel.

(By: Lucky "Ardela" Star)

Selengkapnya...

Minggu, 10 Juni 2012

Ungkapan Jiwa dan Pikiran


Harusnya kita
Mengatakan benar sebagai suatu kebenaran
dan
Mengatakan salah sebagai suatu kesalahan
Bukan
mengatakan benar untuk mendapatkan sesuatu
dan
mengatakan salah untuk menghancurkan sesuatu

[Terinspirasi dari film “GIE”]

Selengkapnya...

Jumat, 01 Juni 2012

Ceritaku


Suatu hari, aku pernah bertemu dengan seseorang yang bermata indah
Pertemuan yang singkat itu berhasil membuatku terpesona
Dia sungguh bermata indah …
Namun, sayangnya sampai sekarang
Aku belum bisa lagi menatap mata indah itu …
Aku sangat ingin bertemu dengannya
Hey kau …
Aku …
Selengkapnya...

Metamorfosis


Ibarat metamorfosis,
Kini aku masih kepompong
Aku masih berusaha keras …
Aku tidak tau akan jadi kupu-kupu yang seperti apa?
Apakah sayapku berwarna hijau? Ungu? Hitam?
Apa pun warnanya, kurasa semuanya indah
Dan yang pasti, suatu hari nanti, aku pasti bisa terbang …

I can fly high and I believe it !!


Selengkapnya...