Playlist

Selasa, 29 November 2011

Tidak usah risau, berjuanglah !!


Kita semua pasti mempunyai mimpi, tetapi jalan kita untuk meraih mimpi berbeda. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Satu hal yang ingin kupertanyakan, pernahkah kita merasa iri melihat teman kita berhasil? Tentu pernah dan itu memang hal yang wajar, yang terpenting jadikan rasa iri itu sebagai cambukan agar kita lebih bangkit dan bersemangat dalam meraih mimpi. Jangan jadikan rasa iri sebagai kehancuran kita.
Berpikirlah positif, mungkin bila diibaratkan, teman kita adalah seekor chetaah yang bisa berlari cepat mencapai tujuannya, sedangkan kita hanyalah seekor siput yang lambat dan membutuhkan waktu yang lama dalam mencapai tujuan. Tidak masalah ... bersyukurlah bila kita diberi jalan yang cukup panjang, itu artinya kita diberi kesempatan untuk lebih belajar memahami keadaan sekitar sebagai bekal ketika kita berhasil meraih mimpi. Dan bagi kalian yang diberi jalan cepat bersyukurlah juga karena kalian bisa merasakan kebahagiaan meraih mimpi di usia muda.
Namun, bukan berarti kita bermalas-malasan dalam meraih mimpi. Cepat atau lambat jalan kita, tujuan kita tetaplah sama, yaitu meraih mimpi.
Berjuanglah ! !
Selengkapnya...

Fonetik

Klasifikasi Konsonan Bahasa Indonesia
Konsonan adalah bunyi yang dihasilkan dengan mempergunakan artikulasi pada salah satu bagian alat bicara. Secara fisiologis antara konsonan satu dengan yang lain lebih mudah dibedakan daripada vokal. Konsonan dibedakan menurut :
* Cara dihambat (cara artikulasi).
* Tempat hambatan (tempat artikulasi).
* Hubungan posisional antara penghambat-penghambatanya atau hubungan antara arikulator aktif dengan pasif (striktur).
* Bergetar tidaknya pita suara dan dilengkapi pula dengan arah arus udara dan mekanisme waktu konsonan diucapkan.

1.      Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan hambat letup adalah konsonan yang terjadi dengan hambatan penuh arus udara kemudian hambatan itu dilepaskan secara tiba-tiba. Strikturnya rapat kemudian dilepaskan tiba-tiba. Striktur rapat yang pertama disebut hambatan, sedangkan striktur pelepasan yang kedua disebut letupan. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan hambat letup  dibagi menjadi :
a)      Konsonan hambat letup bilabial
Penghambat artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, seperti bunyi : [p, b]. Perbedaan di antara keduanya ialah [p] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [b] adalah lunak bersuara.
Contoh bunyi [p. b] : pita, baru, tetap
[p] pada akhir kata disebut konsonan letup hambat karena letupan terjadi lenih dahulu baru kemudian hambatan, atau sering dikatakan hambatannya tidak dilepaskan. Bunyi [b] dalam bahasa Indonesia, misalnya pada kata “jawab, huruf [b] diucapkan sebagai [p].


b)      Konsonan hambat letup apiko-dental
Konsonan yang terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gigi atas. Bunyi yang dihasilkan adalah [t, d]. Bunyi dental [t] adalah konsonan keras tak bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek daripada [t].
Contoh bunyi [t, d] : tiba. Lebat
Semua bunyi [d] pada akhir kata diucapkan sebagai [t] walaupun ditulis dengan huruf [d], misalnya pada kata “murid”.
c)      Konsonan hambat letup apiko-alveolar
Konsonan yang terjadi bila penghambat artikuator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan adalah [t, d]. Perbedaan antara alveolar  [t] adalah konsonan keras tak bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek.
Contoh bunyi [t, d] dalam bahasa Inggris : town [baca: thaUn], down
[t] diucapkan beraspirasi, sedangkan [d] tidak beraspirasi.
d)     Konsonan hambat letup apiko-palatal
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan atikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang terjadi adalah [ṭ, ḍ]. Perbedaan di antara keduanya adalah [ṭ] konsonan keras tak bersuara, sedangkan [ḍ] adalah lunak bersuara.
Contoh bunyi  [ṭ, ḍ] : datang, madu
e)      Konsonan hambat letup medio-palatal
Konsonan yang terjadi bila arikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan adalah [c, j]. Perbedaan antara bunyi [c] dengan [j] adalah [c] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [j] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunyi [c, j] : cara, jurang
f)       Konsonan hambat letup dorso-velar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan adalah [k, g]. Perbedaan antara [k] dengan [g] adalah [k] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [g] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunyi  [k, g] : kaca, gaya, cantik
[k] pada akhir kata merupakan letup hambat atau hambatannya tidak dilepaskan.

g)      Konsonan hamzah (glottal plosive, glottal stop)
Konsonan hamzah terjadi dengan menekan rapat yang satu terhadap yang lain pada seluruh panjangnya pita suara, langit-langit lunak beserta anak tekaknya dikeataskan, sehingga arus udara terhambat untuk beberapa saat. Dengan merapatnya sepasang pita suara maka glotis dalam keadaan tertutup rapat. Secara tiba-tiba kedua selaput pita suara itu dipisahkan, terjadilah letupan udara keluar, dan terdengarlah bunyi [?].
Contoh bunyi  [?] :  ma’af [ma?af], kakak [kaka?]

2.    Konsonan Nasal (Nasals)
Konsonan nasal (sengau) adalah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga mulut, langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan, sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan jenis ini dapat diperinci lagi menjadi :
a)    Konsonan nasal bilabial
Konsonan nasal bilabial terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas. Nasal yang terjadi adalah [m], karena pita suara ikut bergetar maka nasal [m] termasuk konsonan bersuara.
Contoh bunyi [m] : malam
b)   Konsonan nasal apiko-alveolar
Konsonan nasal apiko-alveolar terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan arikulator pasifnya adalah gusi. Nasal yang terjadi adalah [n]. Karena pita suara ikut bergetar maka nasal [n] adalah konsonan bersuara.
Contoh bunyi [n] : nada
c)    Konsonan nasal medio-palatal
Konsonan nasal medio-palatal terjadi bila penghambatan artikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit keras. Nasal yang dihasilkan adalah [n], karena pita suara ikut bergetar maka [n] juga konsonan bersuara.
Contoh bunyi [n] : nyaring, nyanyi
d)   Konsonan nasal dorso-velar
Kosonan nasal dorso-velar terjadi bila proses penghambatan, artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit lunak. Nasal yang dihasilkan adalah [ŋ], karena pita suara ikut bergetar maka [ŋ] adalah nasal besuara.
Contoh bunyi [ŋ] : senang
3.      Konsonan Sampingan (Laterals)

Konsonan sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping atau di salah satu sampingnya. Jadi, strikturnya adalah renggang lebar. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan gusi. Bunyi yang dihasilkan disebut sampingan apiko-alveolar, yaitu bunyi [l], karena pita suara ikut  bergetar maka [l] adalah konsonan bersuara.
Contoh bunyi [l] : lama, lagu

4.      Konsonan Geseran atau Frikatif (Fricatives, Frictions)
Konsonan geseran adalah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru, sehingga jalannya udara terhalang dan keluar dengan bergeser. Jadi strikturnya tidak dapat seperti pada konsonan letup tetapi renggang. Menurut tempat artikulasinya konsonan geseran dapat dibedakan menjadi :
a)      Konsonan geseran labio-dental
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah gigi atas. Bunyi yang terjadi adalah [f, v]. Perbedaan di antara kedua bunyi geseran ini adalah [f] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [v] adalah konsonan lunak bersuara.
Contoh bunti  [f, v] : fakta, valuta
b)      Konsonan geseran lamino-alveolar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya daun lidah dan ujung lidah, sedangkan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan [s, z]. Perbedaanya, [s] sebagai konsonan keras tidak bersuara lebih panjang hambatannya, sedangkan [z] sebagai konsonan lunak bersuara yang hambatannya lebih pendek.
Contoh bunyi [s, z] : suka, lezat
c)      Konsonan geseran dorso-velar
Konsonan yang terjadi bila artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan [x], karena pita suara tidak ikut bergetar, maka bunyi [x] adalah konsonan tidak bersuara.
Contoh bunyi [x] : khilaf
d)     Konsonan geseran laringal
Konsonan geseran laringal atau geseran glotal terjadi bila artikulatornya adalah sepasang pita suara. Udara yang dihembuskan dari paru-paru pada waktu melewati glotis digeserkan. Glotis dalam posisi terbuka. Posisi terbuka ini lebih sempit daripada posisi glotis terbuka lebar dalam bernafas normal. Bunyi yang dihasilkan adalah [h],  karena glotis dalam posisi terbuka, maka pita suara tidak ikut bergetar, dengan demikian [h] adalah konsonan tidak bersuara.
Contoh bunyi [h] : hasil, sawah

5.      Konsonan Getar (Trills, Vibrants)
Konsonan getar adalah konsonan yang dibentuk dengan menghambat  jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat. Jadi strikturnya rapat renggang, yaitu dirapatkan kemudian direnggangkan atau dilepaskan (dihambat-dilepaskan) berkali-kali dengan cepat.
Konsonan getar apiko-alveolar merupakan bagian dari konsonan getar, konsonan ini terjadi bila artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang dihasilkan adalah [r]. Contoh bunyi [r] : rasa, lempar.

6.      Semi-vokal
Bunyi semi-vokal adalah konsonan yang pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Hubungan posisional antar penghambat (artikulator) dalam mengucapkan semi-vokal adalah renggang terbentang atau renggang lebar. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) ada dua jenis semi-vokal yaitu :
a)      Semi-vokal bilabial dan labio-dental
Semi-vokal yang terjadi bila artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, bunyi yang dihasilkan adalah [w] bilabial. Dapat juga bibir bawah bekerja sama dengan gigi atas, yang terjadi adalah [w] labio-dental, karena pita suara ikut bergetar maka [w] adalah bunyi bersuara.
 Contoh bunyi [w] :  warna, waktu
b)      Semi-vokal medio-palatal
Semi-vokal bilabial terjadi bila artikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan adalah [y], karena pita suara ikut bergetar maka [y] adalah bunyi bersuara.
Contoh bunyi [y] : saya, yang

Daftar Pustaka :
Marsono. 2008. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Selengkapnya...

Minggu, 27 November 2011

Kerudung Era Modern: Kerudung Sebagai Penutup Aurat Sekaligus Style



Era modern merupakan era keterbukaan masyarakat terhadap segala hal baru yang sifatnya menarik dan mudah diikuti. Hal baru tersebut dikatakan sebagai budaya populer, yaitu budaya yang dapat diterima dan berkembang dalam masyarakat. Salah satu contoh budaya populer adalah kerudung yang menjadikan perempuan sebagai target utama, khususnya perempuan muslim karena mereka menggunakan kerudung untuk menutup aurat. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, pemakaian kerudung tidak hanya berfungsi sebagai penutup aurat, tetapi juga sebagai style fashion atau gaya berpenampilan. Style yang dimaksud adalah modifikasi kerudung, mulai dari motif, warna, hingga cara pemakaian kerudung yang bervariasi. Dari waktu ke waktu style kerudung semakin beraneka ragam. Style kerudung membuat perempuan merasa percaya diri dengan penampilan mereka, meskipun tertutup tetap modern.
 Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya di lingkungan universitas, kita akan menjumpai pemakai kerudung yang sebagian besar gaya berkerudungnya adalah gaya yang sedang trend. Mereka juga menyesuaikan kerudung dengan pakaian yang dikenakan, misalnya dengan cara memakai kerudung yang warnanya senada dengan warna pakaian. Cara tersebut menambah kesan modis pada penampilan mereka meskipun tertutup. Motif kerudung yang digunakan sangat beragam, misalnya bordir dan batik. Berkerudung semakin terlihat cantik dengan adanya aksesoris kerudung seperti bros yang bentuknya bermacam-macam. Jika diamati secara saksama, style atau gaya berkerudung antara yang satu dengan yang lain tidak jauh berbeda. Hal ini karena masing-masing dari mereka mengikuti gaya yang sedang populer. Pada akhirnya gaya populer tersebut menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat.
Budaya populer seperti style kerudung dapat tersebar luas dalam masyarakat karena didukung oleh industri dan media massa. Kemajuan di bidang industri membuat kerudung lebih banyak dan cepat diproduksi. Industri sendiri menciptakan budaya populer dengan menawarkan motif, model, dan bahan kerudung yang menarik masyarakat, khususnya perempuan, misalnya kerudung paris. Selain itu, industri juga memanfaatkan publik figur seperti artis untuk mempromosikan kerudung yang diproduksi karena biasanya gaya berkerudung artis akan menjadi trend yang diikuti masyarakat, misalnya kerudung Marshanda. Selain industri, media massa juga memegang peran penting dalam mempopulerkan kerudung terbaru. Beberapa media massa seperti majalah, tabloid, televisi, dan internet tidak jarang menampilkan model kerudung terbaru dan cara memakainya sehingga mudah ditiru atau dilakukan sendiri, dengan begitu, gaya berkerudung dapat tersebar luas dalam masyarakat.
Selengkapnya...

Kamis, 24 November 2011

Impian

Jangan takut bermimpi
selalu berjuang meraihnya ... Selengkapnya...